Menyelesaikan Perkara Lampau: Menghancurkan Berhala dan Memperbaharui Iman
Renungan Kristen
“Banyak juga di antara mereka, yang pernah melakukan sihir, mengumpulkan kitab-kitabnya lalu membakarnya di depan mata semua orang.” (Kis. 19:19a)
Hari ini, saya ingin berbagi dengan Anda tentang sebuah tema yang sangat penting dan relevan dalam kehidupan kita sebagai orang percaya: menghancurkan berhala dan memperbaharui iman. Saya mengambil inspirasi dari Kisah Para Rasul 19 dan kisah seorang saudara kita dari Taiwan, yang akan membantu kita memahami betapa pentingnya melepaskan diri dari hal-hal yang menghambat hubungan kita dengan Tuhan.
1. Pengakuan dan Pertobatan di Efesus
Dalam Kisah Para Rasul 19, kita membaca tentang bagaimana orang-orang kudus di Efesus, setelah beroleh selamat melalui pimpinan Paulus, datang untuk mengaku dosa atas perbuatan-perbuatan mereka. Mereka tidak hanya mengakui dosa-dosa mereka, tetapi juga mengambil langkah konkret untuk membersihkan hidup mereka dari segala hal yang berhubungan dengan dosa dan berhala. Mereka dengan sukarela menyerahkan kitab-kitab sihir mereka dan membakarnya di depan mata semua orang. Tindakan ini merupakan simbol dari penyelesaian perkara-perkara lampau mereka dan komitmen mereka untuk hidup baru dalam Kristus.
2. Pentingnya Memeriksa Diri
Sebagai orang yang telah percaya kepada Tuhan, kita juga harus memeriksa diri kita sendiri dan barang-barang yang ada di rumah kita. Barang-barang yang berhubungan dengan dosa dan berhala tidak boleh hanya disingkirkan atau disimpan, tetapi harus dimusnahkan dan dibakar. Hal ini penting agar kita tidak terjebak kembali dalam dosa-dosa lama dan agar kita bisa sepenuhnya hidup untuk Tuhan.
3. Kisah Saudara Lim: Dari Ketakhyulan Menuju Iman yang Murni
Saudara Lim adalah seorang warga Taiwan yang sebelum mengenal Yesus, hidupnya dipenuhi dengan ketakhyulan dan penyembahan berhala. Ia menderita sakit paru-paru yang parah dan dalam keputusasaan, ia meminta kesembuhan dari berhala-berhala di banyak tempat. Ia memelihara belasan berhala di rumahnya dan terus bersujud menyembah siang dan malam. Ketakhyulannya memakan banyak biaya dan membuatnya hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan.
Namun, hidupnya berubah ketika ia bertemu dengan Yesus. Perlahan-lahan, kesehatannya membaik dan ia menyadari bahwa hanya Tuhan yang dapat memberikan kesembuhan sejati. Suatu hari, gereja mengadakan pembersihan besar-besaran dan Saudara Lim memutuskan untuk menyerahkan semua berhala, tempat lilin, dan barang-barang terkait lainnya. Ia membawa barang-barang tersebut ke tempat sidang, di mana mereka dihancurkan dan dibakar. Sejak saat itu, ia memutuskan hubungan dengan berhala-berhala tersebut, dan rohnya menjadi menyala-nyala, sering melayani Tuhan dengan penuh semangat.
4. Menghancurkan Berhala dalam Kehidupan Kita
Kisah Saudara Lim mengajarkan kita bahwa berhala-berhala dalam hidup kita, baik itu dalam bentuk benda fisik, kebiasaan buruk, atau bahkan pemikiran yang salah, harus dihancurkan. Kita tidak bisa setengah-setengah dalam mengikuti Tuhan. Kita harus sepenuhnya menyerahkan hidup kita kepada-Nya dan membuang segala sesuatu yang menghalangi hubungan kita dengan-Nya.
5. Memperbaharui Iman Kita
Ketika kita menghancurkan berhala-berhala dalam hidup kita, kita memperbaharui iman kita. Kita memberikan ruang bagi Roh Kudus untuk bekerja dalam hidup kita dengan lebih bebas. Kita menjadi lebih peka terhadap kehendak Tuhan dan lebih siap untuk melayani-Nya dengan sepenuh hati.
Penutup
Saudara-saudara, marilah kita belajar dari Kisah Para Rasul 19 dan kisah Saudara Lim. Marilah kita dengan berani menghancurkan berhala-berhala dalam hidup kita dan memperbaharui iman kita kepada Tuhan. Dengan demikian, kita dapat hidup dalam kebebasan dan damai sejahtera yang hanya dapat diberikan oleh Yesus Kristus.


Komentar via Facebook