Akhirnya, Terang Itu Milik Kami: Empat Pulau di Sulut Sambut Listrik 24 Jam Sebelum Natal



Sulut, AktualNusantara- Malam di empat sudut lautan Sulawesi Utara selalu datang terlalu cepat. Di Mantehage, Nain, Kakorotan, dan Buhias, gelap yang menutup rumah-rumah sederhana terasa lebih panjang daripada siang. Selama ini, kehidupan seolah ditakar oleh terbatasnya cahaya: anak-anak belajar dengan penerangan seadanya, nelayan pulang menghadapi kegelapan, dan warga hanya bisa berharap esok hari membawa secercah kepastian.

Kini, penantian puluhan tahun itu akhirnya berujung. Menjelang Natal 2025, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara membawa kabar yang bukan sekadar informasi, melainkan kelegaan yang lama disimpan dalam diam. Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, memastikan keempat pulau itu akan menikmati listrik 24 jam penuh sebelum lonceng Natal berbunyi.

Ini merupakan babak baru dari program besar “Sulut Terang”. Sebuah inisiatif yang lahir dari filosofi bahwa pembangunan harus menerangi hidup mereka yang tinggal jauh di garis pinggir, melompati batas laut dan menembus gelombang keterisolasian. “Ini bukan proyek biasa. Ini tanda kehadiran pemerintah yang benar-benar menyentuh kami,” ucap Bupati Minahasa Utara, Talaud, dan Sitaro dalam suara yang hampir seragam.

Bagi masyarakat kepulauan, listrik 24 jam adalah lebih dari sekadar kenyamanan. Ia adalah waktu tambahan yang berharga untuk anak-anak mengejar ilmu, kesempatan bagi keluarga untuk mengembangkan ekonomi, dan yang terpenting, sinyal nyata bahwa mereka tidak dilupakan. Seorang warga Buhias menyebutnya, “kado Natal terbaik setelah bertahun-tahun menunggu terang.”

“Sulut Terang” sejak awal diniatkan sebagai gerakan pemerataan. Keberhasilannya mendistribusikan energi ke pulau-pulau terpencil ini semakin mendekatkan visi tersebut: membawa terang ke seluruh pelosok Sulawesi Utara, hingga tak ada lagi desa yang merasa paling belakang. Kehadiran listrik adalah pengakuan atas hak yang sama akan kemajuan.

Di musim ketika lampu-lampu kota menyala meriah, masyarakat kepulauan akhirnya bisa merasakan hal serupa. Natal 2025 akan mereka sambut dengan terang yang tidak lagi dipinjam atau dibatasi waktu. Cahaya itu akan menyala tetap di rumah-rumah sederhana Nain, tepi pantai Kakorotan, dusun-dusun Buhias, dan Mantehage.

Mungkin, di malam penuh cahaya nanti, mereka akan berbisik dalam hati: “Akhirnya Sulut Terang sampai juga di sini.” Sebuah kalimat sederhana yang menandai berakhirnya satu era kegelapan dan dimulainya babak baru penuh harapan, di mana terang itu, akhirnya, sungguh-sungguh milik mereka. (*/Advertorial)