Pemerintah Sulawesi Utara Dorong Peningkatan Produksi Kelapa Penuhi Kebutuhan Industri Lokal
Manado, AktualNusantara - Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) terus berupaya meningkatkan produksi kelapa guna memenuhi permintaan industri pengolahan dalam negeri yang masih belum tercukupi. Wakil Gubernur Sulut, Victor Mailangkay,(3/5/2025) menegaskan bahwa saat ini produksi kelapa lokal belum mampu memenuhi kebutuhan industri turunan, sehingga masih diperlukan pasokan dari luar daerah.
Berdasarkan data terbaru, Sulut memiliki luas areal tanaman kelapa mencapai 264.677 hektare dengan total produksi 266.053 ton per tahun. Namun, tingkat produktivitasnya masih relatif rendah, yakni 1.248 kilogram per hektare. Sebanyak 198.434 petani kelapa mengelola area seluas 213.059 hektare yang telah menghasilkan. Sementara itu, sekitar 22.376 hektare lainnya masih berupa tanaman kelapa belum menghasilkan (TBM) atau tanaman tua/rusak.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah telah melakukan program peremajaan kelapa melalui anggaran APBN dan APBD sejak 2021 hingga 2024. Program tersebut mencakup penanaman kembali seluas satu hektare dengan distribusi 300.100 bibit kelapa, untuk meningkatkan produktivitas jangka panjang.
Victor Mailangkay juga mengungkapkan kontribusi signifikan ekspor produk turunan kelapa Sulut terhadap perekonomian daerah. Pada 2024, nilai ekspor produk kelapa mencapai Rp2,55 triliun atau 89,49% dari total nilai ekspor provinsi. Komoditas utama ekspor meliputi minyak kelapa (67,36%), kelapa parut (12,54%), bungkil kelapa (12,54%), air kelapa (2,76%), dan produk turunan lainnya seperti santan, tepung, serta tempurung kelapa.
“Pemerintah provinsi bersama seluruh pemangku kepentingan harus bersinergi untuk mengoptimalkan potensi kelapa di Bumi Nyiur Melambai ini. Peningkatan produksi tidak hanya untuk kebutuhan industri, tetapi juga memperkuat posisi Sulut sebagai penghasil produk kelapa berkualitas di pasar global,” tegas Wagub.
Langkah strategis ini diharapkan dapat memperbaiki produktivitas, membuka lapangan kerja, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan luar daerah. Dengan dukungan program peremajaan dan pengolahan yang berkelanjutan, Sulut berpotensi menjadi pemain kunci dalam industri kelapa nasional maupun internasional.


Komentar via Facebook