Bank Sulut Gorontalo (BSG) Catat Rekor Laba Rp 372 Miliar di 2025, Puncak Enam Tahun Terakhir



Manado, AktualNusantara - Bank Sulut Gorontalo (BSG) mengawali tahun 2026 dengan semangat baru setelah menutup tahun 2025 dengan pencapaian keuangan yang gemilang. Laba bersih bank daerah itu melonjak 24 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 372 miliar. Angka ini menandai laba tertinggi yang berhasil dicatat BSG dalam kurun enam tahun terakhir, menjadi sinyal positif di tengah iklim ekonomi yang masih bergejolak.

Momentum optimistis ini dibawa dalam apel perdana tahun 2026 yang digelar di Kantor Pusat BSG, Manado, Senin (5/1/2025). Acara yang dihadiri secara hybrid oleh jajaran Dewan Komisaris, Direksi, hingga seluruh karyawan dari berbagai cabang ini menjadi titik tolak strategis bagi BSG untuk memperkuat fondasi bisnisnya menghadapi tantangan ke depan.

Dalam arahannya, Komisaris Utama BSG, Ramoy Markus Luntungan, menekankan prinsip integritas dan Good and Clean Governance (GCG) sebagai pondasi utama. "Industri perbankan adalah industri kepercayaan, sehingga penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik adalah harga mati," ujarnya, menegaskan pentingnya menjaga momentum pertumbuhan di tahun 2026.

Refleksi kinerja impresif 2025 dipaparkan oleh Direktur Utama BSG, Revino Pepah. Ia mengungkapkan bahwa capaian tersebut diraih di tengah kondisi ekonomi global yang menantang dan pemulihan pasca-Covid yang belum maksimal. "BSG berhasil mencatatkan performa yang impresif," tegasnya.

Secara rinci, performa keuangan BSG pada 2025 menunjukkan vitalitas yang kuat. Total aset bank tumbuh 12,51 persen menjadi Rp 23,7 triliun. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun dari masyarakat melesat signifikan sebesar 21,06 persen, mencapai Rp 18,2 triliun. Pertumbuhan DPK yang tinggi ini mengindikasikan kepercayaan masyarakat yang terjaga.

Pencapaian paling monumental terletak pada laba bersih yang mencapai Rp 372 miliar. Revino Pepah dengan bangga menyatakan, "Ini merupakan pencapaian laba tertinggi dalam enam tahun terakhir." Lonjakan laba ini menjadi bukti efektivitas strategi bisnis yang dijalankan manajemen.

Namun, di balik sorotan prestasi, manajemen tetap menyoroti sejumlah tantangan yang perlu menjadi perhatian. Pertumbuhan penyaluran kredit hanya tercatat sebesar 3,94 persen, angka yang relatif rendah. Di sisi lain, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) mengalami kenaikan menjadi 2,97 persen.

Kedua hal tersebut, yaitu laju pertumbuhan kredit dan rasio NPL, menjadi catatan evaluasi penting bagi BSG untuk diperbaiki pada tahun 2026. Dengan fondasi keuangan yang kini lebih kuat, bank ini ditantai untuk mengoptimalkan penyaluran kredit yang sehat sekaligus menjaga kualitas asetnya di masa mendatang. (JS)