Sulut Di Simpangan Jalan: Ekonomi Biru vs Ekonomi Hijau Menghangatkan Debat Pembangunan



Manado- AktualNusantara- Wacana pembangunan Sulawesi Utara (Sulut) memanas seiring mengemukanya dua konsep ekonomi yang saling bersaing: Ekonomi Biru dan Ekonomi Hijau. Perdebatan yang menentukan arah pembangunan provinsi kaya raya ini justru mendapat bahan bakar baru dari paparan Gubernur Sulut, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Komaling (YSK), dalam Liga Debat Mahasiswa Sulut 2025.

Di hadapan puluhan mahasiswa dari UNSRAT dan UNIMA,Gubernur YSK mengungkap "harta karun biru" Sulut yang selama ini kurang mendapat sorotan. Ia membeberkan fakta bahwa provinsi ini menyimpan salah satu kekuatan kelautan terbesar di Indonesia, dengan menguasai dua dari sepuluh zona penangkapan ikan nasional.

"Indonesia memiliki 10 zona penangkapan ikan utama.Sulut beruntung memiliki dua zona, yaitu Zona 751 dan Zona 752, yang ikannya tidak akan habis. Ini potensi besar yang harus kita jaga dan kelola," tegas Gubernur YSK. Pernyataan ini langsung menyulut diskusi tentang model ekonomi seperti apa yang paling tepat untuk mengelola anugerah ini.

Paparan Gubernur tersebut seakan menjadi bukti kuat bagi pendukungEkonomi Biru. Kelompok ini, yang diwakili oleh pelaku usaha seperti pengusaha perikanan dari Bitung, menitikberatkan pada pemanfaatan berkelanjutan sumber daya kelautan. "Laut kita adalah emas biru. Dengan teknologi dan regulasi yang tepat, industri perikanan kita bisa menyumbang PDRB yang jauh lebih besar," ujarnya.

Konsep Ekonomi Biru tidak hanya mencakup perikanan tangkap,tetapi juga budidaya, wisata bahari, bioteknologi kelautan, dan energi laut. Para pendukungnya berargumen bahwa potensi laut Sulut masih sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan.

Namun,di sisi lain, para pengusung Ekonomi Hijau menyuarakan kekhawatiran. Seorang akademisi dari Universitas Negeri Manado mengingatkan, "Kita tidak bisa hanya memandang laut. Tekanan pada daratan akibat alih fungsi lahan dan deforestasi nyata adanya. Ekonomi Hijau menawarkan solusi dengan menciptakan ekonomi dari pelestarian."

Konsep Ekonomi Hijau menekankan pembangunan rendah karbon,efisiensi sumber daya, dan inklusi sosial. Sektor yang digarap antara lain pengelolaan hutan berkelanjutan, pariwisata alam, pertanian organik, dan pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya dan mikrohidro.

Pertarungan wacana ini terletak pada penekanan prioritas.Kelompok Ekonomi Biru menilai laut adalah masa depan Sulut dan menyerukan investasi besar-besaran di sektor maritim. Sementara itu, pendukung Ekonomi Hijau mengingatkan agar eksploitasi laut tidak mengulangi kesalahan di darat yang seringkali mengabaikan daya dukung lingkungan.

Di tengah perdebatan ini,Gubernur YSK, dalam kesempatan terpisah, menekankan bahwa pengungkapan potensi Zona 751 dan 752 bukanlah ajakan untuk mengeksploitasi secara membabi-buta. "Ini adalah potensi besar yang harus kita jaga dan kelola. Kata 'jaga' di sini sama pentingnya dengan 'kelola'," tegasnya, menekankan prinsip keberlanjutan.

Banyak analis justru melihat bahwa dikotomi antara Biru dan Hijau bukanlah sesuatu yang perlu dipertentangkan.Yang dibutuhkan Sulut adalah integrasi keduanya dalam sebuah model "Ekonomi Biru-Hijau" (Blue-Green Economy). Dalam model ini, pembangunan sektor kelautan harus mematuhi prinsip-prinsip ramah lingkungan (hijau).

Sebaliknya,pembangunan di darat juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap kualitas air laut dan ekosistem pesisir (biru). Misalnya, rehabilitasi hutan di darat akan mencegah sedimentasi yang merusak terumbu karang, sementara pengelolaan sampah yang baik di darat akan mencegah pencemaran plastik di laut.

Tantangan terbesar,bagaimanapun, terletak pada implementasi kebijakan yang terintegrasi. Diperlukan perencanaan tata ruang yang ketat, penegakan hukum terhadap perusak lingkungan baik di darat maupun laut, serta inovasi pendanaan untuk mendorong usaha-usaha yang berkelanjutan.

Koordinator Liga Debat Mahasiswa menyatakan bahwa event ini sengaja mengangkat isu strategis untuk memantik pemikiran kritis calon pemimpin masa depan."Kami berharap debat ini tidak berhenti di ruangan ini, tetapi menjadi inspirasi bagi para mahasiswa untuk berkontribusi dalam perencanaan pembangunan Sulut yang lebih baik."

Pada akhirnya,dinamika antara Ekonomi Biru dan Ekonomi Hijau adalah sebuah proses yang sehat. Masyarakat Sulut menantikan terjemahan wacana ini menjadi action plan konkret. Masa depan Sulut yang maju dan sejahtera tidak akan dibangun hanya di atas gelombang biru atau dedaunan hijau semata, tetapi pada pondasi kebijakan yang cerdas mengelola keduanya secara sinergis untuk generasi mendatang. (**)