Pdt. Arthur Malonda Serukan 'Sulut Cinta Damai': Ajak Umat dan Masyarakat Jaga Kerukunan di Tengah Gejolak
Manado, AktualNusantara – Pemerhati kerohanian sekaligus tokoh masyarakat, Pdt. Arthur Malonda, menyerukan pentingnya menjaga perdamaian dan persatuan di Sulawesi Utara. Dalam pernyataannya yang diterima media, Sabtu (30/8/2025), pendeta yang dikenal aktif dalam dialog antaragama ini mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat merusak kerukunan yang telah lama dibina.
Pdt. Malonda menekankan bahwa Sulawesi Utara memiliki modal sosial yang sangat kuat, berupa toleransi antarumat beragama dan nilai budaya luhur Si Tou Timou Tumou Tou (manusia hidup untuk memanusiakan sesama). “Nilai-nilai warisan leluhur inilah yang harus kita pegang teguh dan praktikkan dalam kehidupan sehari-hari agar Sulut tetap menjadi daerah yang aman, damai, dan harmonis,” tegasnya.
Menurutnya, di era digital seperti sekarang, masyarakat dihadapkan pada arus informasi yang sangat cepat dan sering kali sarat dengan kepentingan tertentu. Pdt. Malonda mengingatkan agar setiap individu bijak dan cerdas dalam menyaring informasi, serta tidak mudah terpengaruh oleh hoaks atau konten provokatif yang bertujuan memecah belah.
Sebagai seorang pemimpin rohani, ia berkomitmen untuk terus mengedukasi jemaat dan masyarakat luas. Ia menegaskan bahwa semua pihak, termasuk media, harus menjadi penyejuk dan perekat persaudaraan, sementara pemuda dan organisasi kemasyarakatan diharapkan dapat menjadi motor penggerak perdamaian.
Pdt. Arthur Malonda juga menegaskan bahwa membangun Sulut tidak hanya tentang kemajuan infrastruktur dan ekonomi semata, tetapi yang terpenting adalah menjaga suasana damai dan harmonis. “Masyarakat yang terpecah belah hanya akan menghambat optimalisasi seluruh program pembangunan untuk kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Ia turut mengapresiasi peran aktif pemerintah daerah, tokoh agama dari berbagai keyakinan, serta komunitas pemuda yang telah berupaya menciptakan Sulut yang kondusif. Kolaborasi yang erat antara pemerintah dan masyarakat disebutkannya sebagai kunci utama menciptakan stabilitas yang berkelanjutan.
Lebih lanjut, Pdt. Malonda mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada isu-isu yang sengaja ‘digoreng’ oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan pribadi atau golongan. “Sulut adalah rumah kita bersama. Mari kita jaga bersama-sama dengan penuh tanggung jawab dan kasih,” serunya.
Seruan ini, menurutnya, bukan sekadar slogan, tetapi merupakan pesan moral yang harus diimplementasikan dalam tindakan nyata. Menanamkan nilai persaudaraan dan menjadikan budaya Si Tou Timou Tumou Tou sebagai pedoman hidup diyakini dapat menjadi pondasi kokoh dalam menghadapi segala tantangan zaman.
Ajakan untuk hidup damai ini dinilai sangat relevan melihat fenomena keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang sempat meresahkan, seperti insiden tawuran antar kampung (tarkam). Pdt. Malonda mendorong pendekatan preventif melalui pendidikan karakter di sekolah-sekolah dan memperkuat literasi digital agar masyarakat, khususnya generasi muda, dapat lebih cerdas dan bijak dalam menyikapi berbagai informasi. (**)


Komentar via Facebook