Kepala Sekolah dan Orang Tua Soroti Prestasi Inaya Liwoso, Sang Pengemban Bendera Pusaka
Manado, AktualNusantara – Suasana halaman Kantor Gubernur Sulawesi Utara pada peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80 pagi itu terasa istimewa. Tidak hanya karena kemeriahan upacara, tetapi juga kebanggaan yang terpancar dari wajah seluruh keluarga besar SMA Negeri 1 Manado. Sorak-sorai dan doa mereka menyatu untuk menyemangati salah satu siswa terbaik mereka, Inaya Jouna Milka Liwoso, yang dipercaya membawa baki bendera pusaka dalam Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat provinsi.
Kepercayaan besar tersebut tidak datang begitu saja. Inaya Liwoso adalah salah satu dari 60 pelajar terpilih yang mewakili seluruh kabupaten dan kota di Sulut. Peran sentralnya dalam upacara yang diinspeksi langsung oleh Gubernur Yulius Selvanus untuk pertama kalinya itu menjadi momen bersejarah, bukan hanya bagi diri dan keluarganya, tetapi juga bagi sekolah yang membesarkan namanya.
Di balik kesuksesan seorang anak, selalu ada dukungan tanpa henti dari lingkungannya. Kepala SMA Negeri 1 Manado Jemmy Jeremias, yang hadir langsung di lapangan, menyatakan kebanggaan yang mendalam. Menurutnya, prestasi Inaya adalah cerminan dari semangat dan karakter seluruh siswa di sekolah tersebut. Keberhasilan ini, ujarnya, adalah buah dari kerja keras, kedisiplinan, dan atmosfer akademik yang positif yang terus dibangun oleh para guru dan staf.
“Inaya telah membawa nama baik sekolah dengan cara yang sangat membanggakan. Perannya sebagai pembawa baki bendera pusaka adalah bukti bahwa pendidikan karakter dan akademik berjalan beriringan di SMA Negeri 1 Manado. Kami semua turut berbahagia dan mengapresiasi jerih payahnya,” demikian sepenggal pernyataan sang Kepala Sekolah yang penuh apresiasi.
Dukungan sekolah tidak berhenti pada kata-kata. Kehadiran langsung Wali Kelas, sejumlah guru, pegawai, dan bahkan sesama siswa di lokasi upacara menjadi energi tersendiri bagi Inaya. Mereka datang dengan membawa spanduk dukungan dan semangat kolektif, menunjukkan bahwa Inaya tidak berjuang sendirian. Ia adalah duta yang diutus oleh seluruh komunitas sekolah.
Di sisi lain, kebanggaan yang sama bahkan lebih mendalam dirasakan oleh kedua orang tua Inaya, Vicky Liwoso dan Ayme Komaling. Dari tribun, mereka menyaksikan setiap langkah pasti putri kedua mereka dengan harap-harap cemas dan doa yang tak putus. Untuk mereka, ini adalah momen sakral yang akan dikenang sepanjang hayat.
Ayme Komaling, sang ibu, dengan mata berbinar mengungkapkan rasa syukurnya yang tak terhingga. “Kami bersyukur dan bangga atas keberhasilan Inaya. Mampu menjalankan tugas sebagai Paskibraka dengan baik adalah anugerah Tuhan yang luar biasa. Ini adalah hasil dari doa dan proses panjang,” ujarnya didampingi sang suami.
Sang ayah, Penatua Vicky Liwoso, menambahkan bahwa prestasi ini adalah buah dari iman dan kerja keras. Sebagai remaja yang aktif dan taat beribadah di GMIM Petra Mahakeret, Inaya diajarkan untuk tidak hanya mengejar prestasi duniawi tetapi juga menjadi pribadi yang berintegritas dan rendah hati. Keluarga besar jemaat pun turut mendoakan dan mengangkatnya sebagai sumber inspirasi.
Inaya sendiri bukanlah nama baru di dunia prestasi. Sebelumnya, ia telah menyumbangkan medali emas dalam Olimpiade Siswa Indonesia (OSI) untuk bidang Bahasa Indonesia tahun 2024. Prestasi akademiknya yang cemerlang berpadu dengan sikapnya yang murah senyum dan berani, menjadikannya profil pelajar yang seimbang dan patut diteladani.
Sinergi antara dukungan sekolah dan motivasi dari keluarga inilah yang menjadi fondasi kokoh bagi kesuksesan Inaya. Kepala Sekolah memahami peran penting orang tua dalam mendidik anak, sementara orang tua mempercayakan pembinaan karakter dan ilmu kepada sekolah. Kolaborasi yang harmonis ini akhirnya melahirkan seorang pelajar yang tidak hanya pandai secara akademik tetapi juga memiliki nasionalisme dan akhlak mulia.
Momen Pengibaran Bendera Pusaka ini menjadi penanda yang sangat kuat. Bagi SMA Negeri 1 Manado, ini adalah prestise institusi. Bagi keluarga Liwoso-Komaling, ini adalah puncak kebanggaan seorang anak. Dan bagi Inaya, ini adalah sebuah tanggung jawab besar yang berhasil ia jalankan dengan sempurna, mengukirnya dalam sejarah perjalanan hidupnya.
Dengan ditutupnya upacara itu, sebuah babak baru telah dimulai. Doa dan harapan untuk masa depan Inaya Liwoso yang gemilang terus mengalir dari semua pihak yang menyaksikan perjuangannya. Ia telah membuktikan bahwa dengan dukungan yang solid, seorang pelajar bisa mencapai mimpi tertingginya dan menjadi kebanggaan bagi banyak orang. (**)


Komentar via Facebook