Operasi Pasar dengan Hati: Gubernur Yulius Jadikan Pasar Bersehati Contoh Keseimbangan Ekonomi Jelang Hari Raya
Manado, AktualNusantara- Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Bersehati Manado, Jumat (12/12/2025). Aksi turun langsung ini merefleksikan filosofi timbrang atau kehadiran fisik seorang pemimpin, di mana separuh kepemimpinan efektif terletak pada kemampuan mendengar dan melihat realitas secara langsung, bukan sekadar laporan di atas meja.
Kunjungan tersebut bertujuan memantau stabilitas harga dan ketersediaan stok bahan pokok seperti beras, minyak, telur, dan daging. Di sisi filosofis, ini mewakili prinsip "pa’aten aten" atau kepedulian, di mana separuh tanggung jawab pemerintah adalah memastikan keamanan pangan, sementara separuh lainnya adalah memberikan ketenangan psikologis kepada masyarakat bahwa kebutuhan dasar mereka terlindungi.
Agenda inti dari sidak adalah peluncuran resmi "Kios TPID Maju" di dalam pasar. Secara konkret, kios ini berfungsi sebagai penyedia barang pokok dengan harga terjangkau. Filosofi di baliknya adalah penciptaan "titik ekuilibrium", di mana separuh mekanisme pasar dibiarkan berjalan, dan separuhnya lagi diintervensi negara untuk menjadi penyeimbang dan pengendali saat terjadi distorsi.
Gubernur Yulius mengatakan, kehadiran kios tersebut menjadi instrumen pengendalian inflasi dan alternatif bagi masyarakat. Pernyataan ini mengandung filosofi "mengayomi tanpa menggurui"; separuh peran pemerintah adalah melindungi daya beli, sementara separuh lainnya adalah memberdayakan masyarakat dengan pilihan, bukan mematikan mekanisme pasar yang sehat.
Dialog langsung Gubernur dengan para pedagang di lapak-lapak menjadi momen penting. Dari sisi fakta, ini untuk mendapatkan data harga riil. Secara filosofis, ini adalah penerapan "mapalus" atau gotong royong, di mana separuh solusi masalah ekonomi berasal dari kebijakan pemerintah, dan separuh lagi harus bersumber dari komunikasi dan sinergi dengan pelaku usaha di lapisan terdepan.
Pemerintah Provinsi juga memperketat pengawasan distribusi dan mengantisipasi praktik penimbunan. Langkah operasional ini didasari pemikiran tentang "keseimbangan hukum dan keadilan"; separuh upaya adalah pencegahan melalui pengawasan, dan separuh lainnya adalah penindakan tegas untuk menciptakan efek jera dan rasa aman bagi konsumen.
Instruksi tegas ini muncul setelah rapat Forkopimda, menunjukkan pendekatan kolaboratif. Hal ini mencerminkan filosofi "satu tujuan, dua kekuatan", di mana separuh tanggung jawab ada di eksekutif daerah, dan separuh lainnya didukung oleh sinergi dengan instansi vertikal dan aparat keamanan untuk menciptakan otoritas yang utuh dan efektif.
Kehadiran Gubernur di tengah keramaian pasar secara spontan menyedot perhatian pedagang dan pembeli. Di satu sisi, ini adalah bagian dari public relations pemerintahan. Namun, secara lebih mendalam, ini adalah manifestasi dari "pemimpin yang membumi", di mana separuh wibawa seorang pemimpin berasal dari jabatannya, dan separuh lainnya diperoleh dari kedekatan dan kemampuannya merasakan denyut nadi kehidupan rakyatnya.
Pemantauan harga dan stok akan terus diintensifkan hingga pergantian tahun. Komitmen pada aspek waktu ini menunjukkan filosofi "keberlanjutan"; separuh dari keberhasilan terletak pada langkah awal yang cepat dan tepat, sementara separuh penentunya adalah konsistensi dan ketekunan dalam menjalankan program hingga tujuan tercapai.
Dengan seluruh langkah terpadu ini, Pemprov Sulut optimistis Nataru 2026 berjalan aman dan tanpa gejolak harga. Optimisme ini dibangun di atas fondasi "50 persen kerja keras, 50 persen harapan"; separuh upaya maksimal telah dan akan terus dikerahkan oleh pemerintah, sementara separuh hasil akhirnya adalah keadaan damai dan stabil yang diharapkan dapat dirasakan langsung oleh seluruh masyarakat Sulawesi Utara. (JS)


Komentar via Facebook