Swedia dan Finlandia Bersiap Hadapi Ancaman Perang di Tengah Ketegangan dengan Rusia
Ketegangan di kawasan Nordik meningkat seiring dengan invasi Rusia ke Ukraina yang terus berlangsung. Swedia dan Finlandia kini memperkuat langkah-langkah persiapan menghadapi kemungkinan perang, termasuk memberikan panduan kepada warganya terkait krisis yang mungkin terjadi.
Langkah Swedia: Pamflet dan Peningkatan Kesiapan
Swedia mulai mendistribusikan jutaan pamflet berjudul If Crisis or War Comes kepada 5,2 juta rumah tangga di seluruh negeri. Pamflet setebal 32 halaman ini memberikan panduan untuk bersiap menghadapi perang, bencana alam, serta serangan siber dan teror. Ini adalah edisi terbaru dari pamflet serupa yang terakhir kali diterbitkan pada 2018, dengan fokus lebih besar pada ancaman perang.
"Situasi keamanan saat ini sangat serius. Kita semua perlu memperkuat ketahanan untuk menghadapi berbagai krisis dan, pada akhirnya, perang," ujar Mikael Frisell, Direktur Badan Kontingensi Sipil Swedia (MSB). Panduan ini mencakup langkah-langkah seperti menyimpan makanan dan air, memiliki uang tunai, serta menanam buah dan sayur di kebun rumah.
Swedia juga telah melakukan serangkaian langkah pertahanan sejak 2014, termasuk memperkenalkan kembali wajib militer, meningkatkan anggaran pertahanan, memperkuat tempat perlindungan bom, dan membangun lembaga pertahanan psikologis untuk menangkal disinformasi.
Menteri Pertahanan Sipil Carl-Oskar Bohlin sebelumnya memperingatkan bahwa "perang bisa terjadi di Swedia," sejalan dengan pernyataan Menteri Pertahanan Pål Jonson bahwa Rusia mungkin menyerang untuk menguasai Laut Baltik.
Finlandia Meluncurkan Situs Kesiapan Baru
Sementara itu, Finlandia meluncurkan situs web yang menyediakan informasi lengkap tentang persiapan menghadapi krisis. Negara yang berbatasan langsung sepanjang 1.340 km dengan Rusia ini telah lama menjaga tingkat kesiapan yang tinggi.
Setelah invasi Rusia ke Ukraina, Finlandia mempercepat pembangunan pagar perbatasan sepanjang 200 km yang dijadwalkan selesai pada 2026. Langkah ini dilakukan setelah Helsinki menutup delapan pos perbatasan dengan Rusia, menyusul klaim bahwa Moskow menggunakan migran sebagai bagian dari "serangan hibrida."
Ketegangan Infrastruktur: Kabel Bawah Laut Terputus
Ketegangan di kawasan Baltik juga meningkat setelah kabel komunikasi bawah laut antara Finlandia dan Jerman terputus pada Senin (18/11). Pemerintah kedua negara mencurigai kerusakan tersebut disengaja sebagai bagian dari "perang hibrida."
"Kejadian ini menunjukkan betapa rentannya keamanan Eropa di tengah agresi Rusia terhadap Ukraina," kata pernyataan bersama Menteri Luar Negeri Finlandia dan Jerman. Meskipun demikian, operator jaringan Finlandia, Cinia, memastikan bahwa konektivitas internet tidak terganggu karena adanya rute kabel alternatif.
Nordik di Bawah Payung NATO
Swedia dan Finlandia, yang sebelumnya netral secara militer, telah bergabung dengan NATO setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Langkah ini mencerminkan peningkatan kewaspadaan di tengah ancaman yang berkembang dari Rusia.
Dengan ketegangan yang terus meningkat, kedua negara kini memperkuat kesiapan militer dan sipil untuk memastikan keamanan warganya menghadapi ancaman apa pun yang mungkin muncul.
@AktualNusantara


Komentar via Facebook