Gaya Revolusioner Gubernur Sulut: Tinggalkan Mobil Dinas, Pilih Patroli Polisi
Manado, AktuakNusantara, Kamis pagi (7/8/2025) menjadi hari yang mengejutkan di Kantor Gubernur Sulawesi Utara. Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, tiba dengan cara tak biasa - menggunakan mobil patroli polisi alih-alih mobil dinas mewah. Penampilannya yang sederhana dengan kemeja batik coklat semakin menegaskan kesan rendah hati dari pemimpin yang selama ini dikenal ketat dalam protokoler ini.
Langkah tak terduga ini langsung menyita perhatian. Saat turun di lobi utama, Gubernur Yulius disambut langsung oleh jajaran pimpinan Pemprov Sulut termasuk Sekretaris Provinsi Tahlis Gallang,Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Denny Mangala,serta Asisten III Bidang Administrasi Umum Fransiscus E.Manumpil "Ini bentuk penyederhanaan protokol sekaligus bukti kedekatan dengan aparat," ujar seorang staf yang enggan disebutkan namanya.
Sumber internal mengungkapkan, pilihan menggunakan kendaraan patroli bukan tanpa makna. Selain sebagai evaluasi sistem pengamanan, ini adalah pesan moral tentang kepemimpinan yang membumi. "Pak Gubernur ingin tunjukkan bahwa beliau bagian dari tim kerja, bukan hanya pemimpin di belakang meja," tambah sumber tersebut.
Aksi simbolik ini langsung menjadi viral di kalangan pegawai. Banyak yang terinspirasi melihat pemimpin provinsi mereka yang biasanya dijaga ketat, kini justru memilih pendekatan yang lebih dekat dengan lapangan. "Ini baru pemimpin yang mengerti kondisi nyata," komentar salah seorang ASN yang menyaksikan langsung kedatangan Gubernur.
Meski belum ada penjelasan resmi, langkah Gubernur Yulius dinilai banyak kalangan sebagai terobosan segar dalam birokrasi. Pengamat pemerintahan menyebut ini sebagai bentuk disruptif positif dalam budaya kerja pemda. "Ini sinyal kuat untuk perubahan menuju pemerintahan yang lebih responsif," ujar seorang akademisi Unima.
Di media sosial, aksi Gubernur menuai pujian. Warganet menjulukinya "Gubernur Rakyat" yang berani keluar dari zona nyaman kepemimpinan konvensional. Banyak yang berharap ini menjadi awal perubahan budaya birokrasi di Sulut yang lebih egaliter.
Hingga siang ini, suasana di kantor gubernur masih ramai membicarakan momen bersejarah tersebut. Para pegawai terlihat lebih bersemangat bekerja, terinspirasi oleh keteladanan pemimpin mereka yang memilih kesederhanaan daripada kemewahan jabatan.
Langkah Gubernur Yulius ini bukan hanya tentang moda transportasi, tapi lebih pada filosofi kepemimpinan yang ingin dibangun - bahwa seorang pemimpin sejati harus mampu merasakan denyut nadi rakyat yang dipimpinnya, bukan hanya berkutat dalam kemewahan jabatan. (**)


Komentar via Facebook