Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025: Sulawesi Utara Serukan Perang Melawan Polusi Plastik



Manado, AktualNusantara– Langit di atas Pantai Karangria, Sindulang, Manado, pagi ini masih diselimuti mendung tipis. Namun, cuaca tak menyurutkan semangat sekitar 750 orang yang berkumpul untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Aparat pemerintah, mahasiswa, TNI-Polri, dan relawan lingkungan hadir dengan satu misi: melawan ancaman polusi plastik yang kian mengkhawatirkan.  

 

Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, membacakan amanat Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, yang menegaskan bahwa polusi plastik adalah "bom waktu ekologis". "Mikroplastik telah mencemari air minum, garam, bahkan tubuh manusia. Ini bukan sekadar masalah sampah, tapi krisis multidimensi," tegas Yulius.  

 

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2023 menunjukkan, dari 56,6 juta ton sampah nasional, lebih dari10 juta ton adalah plastik. Ironisnya, hanya 39% yang dikelola dengan baik. Sisanya berakhir di laut, dibakar, atau menumpuk di TPA tanpa sistem pengolahan memadai.  

 

Dalam aksi simbolis, peserta memungut sampah plastik di sepanjang pantai sambil membentangkan spanduk kampanye. Aksi ini menegaskan bahwa penanganan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.  

 

Pemerintah telah menetapkan target 100% pengelolaan sampah pada 2029 melalui dua pendekatan:  

1. Hulu : Pelarangan impor limbah plastik, pembatasan plastik sekali pakai, dan regulasi ketat untuk produsen.  

2. Hilir : Penghapusan open dumping dan pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah di 33 kota besar.  

 

Menteri Hanif juga mengapresiasi penerima Kalpataru, penghargaan bagi pejuang lingkungan, termasuk petani, guru, dan pemuda yang berkontribusi dalam ekonomi sirkular.  

 

Generasi Z dan Alpha didorong menjadi agen perubahan dengan gaya hidup berkelanjutan, seperti membawa tumbler dan mengurangi sampah plastik. Indonesia juga akan berpartisipasi dalam forum INC-5.2 di Jenewa untuk memperjuangkan perjanjian global pengurangan polusi plastik.  

 

Di akhir acara, Gubernur Yulius mengutip pesan Menteri Hanif: "Bumi tidak membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan bumi."Pesan ini menjadi pengingat bahwa upaya penyelamatan lingkungan harus terus digaungkan, bukan sekadar seremonial.(*)– Langit di atas Pantai Karangria, Sindulang, Manado, pagi ini masih diselimuti mendung tipis. Namun, cuaca tak menyurutkan semangat sekitar 750 orang yang berkumpul untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Aparat pemerintah, mahasiswa, TNI-Polri, dan relawan lingkungan hadir dengan satu misi: melawan ancaman polusi plastik yang kian mengkhawatirkan.

Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, membacakan amanat Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, yang menegaskan bahwa polusi plastik adalah "bom waktu ekologis". "Mikroplastik telah mencemari air minum, garam, bahkan tubuh manusia. Ini bukan sekadar masalah sampah, tapi krisis multidimensi," tegas Yulius.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2023 menunjukkan, dari 56,6 juta ton sampah nasional, lebih dari10 juta ton adalah plastik. Ironisnya, hanya 39% yang dikelola dengan baik. Sisanya berakhir di laut, dibakar, atau menumpuk di TPA tanpa sistem pengolahan memadai.

Dalam aksi simbolis, peserta memungut sampah plastik di sepanjang pantai sambil membentangkan spanduk kampanye. Aksi ini menegaskan bahwa penanganan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

Pemerintah telah menetapkan target 100% pengelolaan sampah pada 2029 melalui dua pendekatan:
1. Hulu : Pelarangan impor limbah plastik, pembatasan plastik sekali pakai, dan regulasi ketat untuk produsen.
2. Hilir : Penghapusan open dumping dan pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah di 33 kota besar.

Menteri Hanif juga mengapresiasi penerima Kalpataru, penghargaan bagi pejuang lingkungan, termasuk petani, guru, dan pemuda yang berkontribusi dalam ekonomi sirkular.

Generasi Z dan Alpha didorong menjadi agen perubahan dengan gaya hidup berkelanjutan, seperti membawa tumbler dan mengurangi sampah plastik. Indonesia juga akan berpartisipasi dalam forum INC-5.2 di Jenewa untuk memperjuangkan perjanjian global pengurangan polusi plastik.

Di akhir acara, Gubernur Yulius mengutip pesan Menteri Hanif: "Bumi tidak membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan bumi."Pesan ini menjadi pengingat bahwa upaya penyelamatan lingkungan harus terus digaungkan, bukan sekadar seremonial.(*)