Masyarakat Timbukar Geram, Kumtua Dituding Berbohong dan Langgar Aspirasi Publik



Minahasa, AktualNusantara- Kontroversi pembangunan Home Stay di lapangan sepak bola Timbukar semakin memanas. Kumtua Timbukar dikritik keras oleh warga, termasuk Adri Rorong, yang menudingnya berbohong dan mengabaikan suara masyarakat. Padahal, lapangan tersebut merupakan fasilitas umum yang dibiayai swadaya warga.

Adri Rorong, salah satu tokoh masyarakat, menyatakan kekecewaannya. Menurutnya, kumtua sengaja menutupi fakta dengan klaim bahwa proyek Home Stay sudah diperiksa Kementerian Desa. Adri menegaskan, masyarakat tidak pernah menyetujui pembangunan di atas lapangan sepak bola.

"Ini bukan soal sakit hati, tapi soal janji yang diingkari," tegas Adri. Dia menyayangkan sikap kumtua yang justru menyudutkan warga sebagai provokator, padahal yang terjadi adalah protes terhadap pelanggaran hak masyarakat.

Persoalan bermula dari rencana pembangunan Home Stay di atas lapangan sepak bola. Warga menolak karena lapangan itu adalah ruang publik yang sering digunakan untuk kegiatan sosial. Bahkan, BPD telah memberi teguran tertulis terkait hal ini.

Adri mengungkapkan, kumtua pernah berjanji membeli lahan baru di samping lapangan. Namun, hingga kini janji itu tidak ditepati. Alih-alih mendengarkan aspirasi warga, kumtua malah menggunakan pendekatan represif dengan melibatkan oknum aparat saat pembangunan dimulai.

Warga menilai kumtua berlaku tidak transparan. Proyek Home Stay disebut-sebut sudah mendapat izin, tetapi tidak ada bukti konsultasi dengan masyarakat. Padahal, dalam beberapa pertemuan sebelumnya, penolakan warga sudah disampaikan secara jelas.

Adri mendesak penegak hukum turun tangan.Dia meminta proses hukum dipercepat agar tidak ada lagi kebohongan publik dan penyalahgunaan kekuasaan. "Kami memilih dia, tapi kenapa sekarang kami yang dikhianati?" tanyanya.

Dia juga meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi. Menurutnya, perjuangan warga harus dilakukan dengan cara yang elegan, tanpa kekerasan, tetapi tetap tegas mempertahankan hak mereka.

Sejumlah warga mengaku kecewa dengan sikap kumtua. Mereka merasa suara mereka diabaikan, sementara proyek terus dipaksakan. "Ini bukan hanya soal lapangan, tapi soal kepercayaan," ujar salah satu warga.

Adri menegaskan, perjuangan warga Timbukar adalah untuk keadilan. Mereka tidak ingin fasilitas umum dikorbankan untuk kepentingan segelintir orang. "Kami hanya ingin kumtua mendengar dan menghargai rakyatnya," katanya.

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari kumtua.Namun, tekanan publik terus meningkat, menuntut pertanggungjawaban atas tuduhan berbagai pelanggaran dan pengabaian aspirasi masyarakat Timbukar.(**)