Hati Nurani yang Murni di Hadapan Allah



Renungan Kristen

Kisah Para Rasul 23:1 "Saudara-saudara, sampai hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah."

Hari ini, mari kita bersama-sama merenungkan firman Tuhan yang terdapat dalam Kisah Para Rasul 23:1, di mana Rasul Paulus berkata, "Saudara-saudara, sampai hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah." Pernyataan ini sangat penting bagi kita sebagai umat percaya, karena menggambarkan betapa pentingnya memiliki hati nurani yang murni di hadapan Allah.

Hidup dengan hati nurani yang murni berarti hidup dengan hati yang suci, yang dibersihkan dari segala campuran dan motivasi yang tidak berasal dari Allah. Paulus memberikan teladan yang jelas bahwa dalam hidupnya, ia tidak memiliki motivasi lain selain untuk memuliakan Allah. Di antara Paulus dan Allah tidak terdapat sekatan apa pun, sehingga ia dapat hidup dalam hubungan yang intim dengan Tuhan.

Allah menghendaki agar hati nurani kita murni (1 Tim. 1:5). Setelah kita percaya kepada Tuhan, kita harus terus melatih hati nurani kita agar tetap murni di hadapan-Nya. Kemurnian ini bukan hanya menuntut kita untuk menyingkirkan dosa dan keinginan daging, tetapi juga hal-hal lain yang tidak berasal dari Allah. Segala sesuatu yang tidak berkenan di hati Allah harus kita singkirkan.

Untuk mempertahankan hati nurani yang murni, pertama-tama kita perlu membiasakan diri mengaku dosa. Setiap kali hati nurani kita memberitahukan dosa-dosa kita dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan, kita harus segera mengakuinya di hadapan Allah. Jika kita enggan mengakui dosa-dosa itu, mereka akan menumpuk di dalam hati kita, membuat hati nurani kita menjadi cemar dan tumpul (Tit. 1:15).

Kedua, kita harus menanggalkan segala sesuatu yang bukan berasal dari Allah. Apa yang Allah inginkan, itulah yang harus kita inginkan. Apa yang tidak Allah inginkan, kita harus rela menanggalkannya, karena hati kita hanya mau memuliakan Allah. Misalnya, ada seorang saudari yang bersaksi bahwa selama berdoa, Tuhan meneranginya untuk tidak lagi memakai gaun-gaun yang modis. Ia merasakan dorongan dari Tuhan untuk menanggalkan gaun-gaun tersebut dan berdoa, "Tuhan, ampuni aku, dan selamatkan aku dari gaun yang modis ini." Ini bukan soal baik atau buruknya gaun itu, tetapi soal kemurnian hati di hadapan Allah (Mal. 3:2-3).

Kesulitan kita hari ini adalah sering kali kita tidak taat dalam menanggulangi hal-hal yang mengotori hati nurani kita, atau kita tidak menanggulanginya dengan serius. Seberapa murni hati nurani kita di hadapan Allah tergantung pada seberapa besar ketaatan kita terhadap Allah.

Mari kita berdoa agar Tuhan memberikan kita hati yang murni, hati yang selalu taat kepada-Nya. Biarlah setiap tindakan, pikiran, dan perkataan kita mencerminkan hati nurani yang murni di hadapan Allah. Dengan demikian, kita dapat hidup seperti Rasul Paulus, dengan hati nurani yang murni, memuliakan Allah dalam segala hal yang kita lakukan.
Amin.