Inilah 4 Bahaya Kemasan Styrofoam jika Digunakan sebagai Kemasan Makanan Panas



Kesehatan - Tahukah Anda bahwa kemasan styrofoam yang biasa digunakan pedagang kuliner itu ternyata mengandung zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan? Seorang pakar persampahan dari Institut Teknologi Bandung, Enri Damanhuri, mengatakan bahwa styrofoam tidak hanya membahayakan bagi kesehatan, namun juga bagi lingkungan. Berikut ini bahaya styrofoam yang wajib Anda ketahui:

 1. Bahan Styrofoam Mengandung Benzena

Benzena adalah salah satu zat yang dihasilkan dari bahan bakar minyak dan sangat tidak disarankan digunakan sebagai bahan kemasan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahkan sudah melarang penggunaan styrofoam sebagai kemasan makanan. Pasalnya, benzena ini merupakan zat yang bisa menyebabkan kanker. Ketika styrofoam diisi dengan makanan atau minuman panas, benzoat akan keluar dan membaur bersama makanan dan minuman tersebut. Seram, kan? Makanya, mulai sekarang beralihlah ke kemasan yang food grade. Anda tentu ingin hidup lebih sehat dan terhindar dari kanker. 

 2. Styrofoam mengandung Stirena

Stirena adalah zat pencetus kanker yang terdapat dalam kandungan material styrofoam. Zat ini akan meleleh bersama panas makanan atau minuman yang menggunakan styrofoam. Akibat yang ditimbulkan dari zat ini adalah kerusakan sumsum tulang belakang, gangguan fungsi kelenjar tiroid, dan mengganggu sistem produksi sel darah merah sehingga menyebakan anemia.

 3. Sulit Didaur Ulang

Sebenarnya, sampah styrofoam bisa didaur ulang, tetapi proses daur ulangnya tidak bisa maksimal. Partikel pecahannya akan tetap menyebar dan mengotori udara. Ini karena sifatnya yang microplastic, sehingga pecahan styrofoam menjadi tidak kasat mata. Jika pecahan ini sampai ke lautan dan mencemari ikan-ikan yang bisa dikonsumsi masyarakat, kesehatan masyarakat bisa terganggu. 

 4. Sampah kemasannya sulit terurai

Sampah adalah penyebab utama terjadinya banjir di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan kota lainnya. Di antara tumpukan sampah-sampah tersebut, pemerintah mendapati bahwa sampah kemasanlah yang paling banyak ditemukan. Bahkan, sebuah penelitian di Bandung yang dilakukan oleh Fakultas Teknik Jurusan Teknik Lingkungan tahun 2011 silam mendapati bahwa sampah styrofoam mencapai 27 ton setiap bulannya. Jumlah sebanyak ini akan membahayakan lingkungan, sebab styrofoam tidak mudah terurai. 

Menurut penelitian para ahli, styrofoam baru hancur setelah 500 tahun. Bayangkan, berapa banyak sampah styrofoam yang menumpuk pada zaman anak cucu Anda nanti, jika pemakaian styrofoam tidak dihentikan. Mulai sekarang, beralihlah perlahan ke kemasan lain yang lebih ramah lingkungan serta lolos uji food grade. Jangan pertaruhkan kesehatan Anda hanya karena iming-iming harga yang lebih murah.  

image source: https://local.mx/wp-content/uploads/2017/03/japon-unicel-complexify.jpg

Sumber: Cimahikota.co.id, 4 Bahaya Penggunaan Styrofoam yang Wajib Diketahui