Sulawesi Utara Berduka, Kehilangan Bogani Pemersatu Sulut, M-Nusantara.com - Sulawesi Utara berduka. Bogani Tabuan Sahrial Damapolii, sosok sentral di panggung politik dan kemasyarakatan daerah itu,



Sulut, AktualNusantara - Sulawesi Utara berduka. Bogani Tabuan Sahrial Damapolii, sosok sentral di panggung politik dan kemasyarakatan daerah itu, telah berpulang. Ia menghembuskan napas terakhir setelah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk membangun tanah kelahirannya, meninggalkan luka kehilangan yang dalam bagi keluarga, kolega, dan masyarakat luas.

Pria yang akrab disapa Om Sahrial ini dikenal luas sebagai Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Utara yang memimpin selama tiga periode kepemimpinan. Catatan panjangnya di kursi legislatif menjadi bukti konsistensi dan kepercayaan yang diperolehnya dari rekan-rekan sejawat dan konstituen. Di tangan dinginnya, banyak kebijakan strategis daerah yang dikawal dengan prinsip ketegasan dan keadilan.

Lebih dari sekadar politisi, Sahrial Damapolii adalah seorang bogani—sebuah gelar adat yang berarti pemimpin atau pemersatu—bagi masyarakat Totabuan (Bolmong Raya). Ia dihormati sebagai pendengar yang sabar dan pengambil keputusan yang selalu menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas tertinggi. Karakternya merupakan perpaduan unik antara kewibawaan di ruang sidang dan kerendahan hati di kehidupan sehari-hari.

“Beliau keras pada aturan, tapi lembut pada manusia,” kenang salah seorang koleganya. Ungkapan itu merepresentasikan filosofi kepemimpinannya. Ia tak ragu menegakkan prinsip dan tata tertib, namun selalu membuka ruang dialog dan musyawarah yang luas. Pendekatannya yang manusiawi membuatnya disegani, bukan ditakuti.

Salah satu warisan konkritnya di DPRD Sulut adalah penguatan fungsi legislasi dan pengawasan yang berintegritas. Ia juga dikenal berperan penting dalam membentuk dan mengembangkan Kaukus Totabuan, wadah yang mempersatukan dan memperjuangkan aspirasi wakil rakyat serta masyarakat dari Bolaang Mongondow Raya. Hal ini menunjukkan komitmennya yang mendalam terhadap pemerataan pembangunan.

Tidak hanya di gedung dewan, ketokohan almarhum juga bersinar di tengah masyarakat. Nasihat-nasihatnya yang bijak, terutama tentang integritas, amanah, dan keteladanan, menjadi pegangan bagi banyak generasi muda. Baginya, jabatan bukanlah simbol kehormatan, melainkan sarana pengabdian yang penuh tanggung jawab.

Kepergian Om Sahrial meninggalkan ruang kosong yang sulit terisi. Namun, warisan nilai-nilai luhur yang ditinggalkannya—tentang pengabdian tanpa pamrih, kejujuran, keberanian membela kebenaran, dan kerendahan hati—akan terus hidup dan menjadi penuntun bagi siapa pun yang melanjutkan estafet kepemimpinan di Sulawesi Utara.

Selamat jalan, Om Sahrial. Terima kasih atas seluruh bimbingan, bakti, dan keteladananmu. Seperti yang ditulis Amir Halatan, salah seorang yang dibimbingnya, “Selamat jalan, Om... yang telah membimbingku seperti anakmu sendiri.” Namamu akan tetap harum dalam sejarah dan kenangan kolektif masyarakat Sulawesi Utara. (*()