Lagu "Termiskin di Dunia" Meriahkan Acara Kenegaraan, Pangdam Dihadiahkan Joget Kejutan



Manado, AktualNusantara- Di bawah lampu kristal Wisma Bumi Beringin,Sabtu (13/12/2025)malam itu berdegup dalam irama protokoler. Jabat tangan, pidato, dan penghormatan tersusun rapi seperti papan catur. Udara dipenuhi aroma formalitas dan kata-kata berlapis. Acara pisah sambut Pangdam XIII/Merdeka bergulir layaknya upacara kenegaraan pada umumnya: terukur, khidmat, dan penuh batas-batas tak terlihat yang dijaga semua orang.

Dari pengeras suara, terdengar denting intro khas organ tunggal. Dan sekonyong-konyong, Tahlis Gallang, Sang Sekretaris Provinsi yang biasanya identik dengan draft peraturan dan notulen rapat, melepas suaranya. Lirih di awal, lalu menguat menyanyikan lagu dangdut “Termiskin di Dunia”. Sebuah retakan kecil di dinding keseriusan, yang dengan cepat melebar menjadi jendela. Suara itu bukan sekadar nyanyian; ia adalah pintu darurat dari rutinitas birokrasi menuju ruang kebersahajaan yang hampir terlupakan.

Gubernur Yulius Selvanus Komaling,yang sesaat sebelumnya duduk tegap, tiba-tiba tersenyum. Badannya mulai bergoyang pelan, mengikuti irama yang memanggil. Ia bangkit, dan jogetnya—sederhana, khas orang menikmati musik—menjadi isyarat pembebasan. Kesederhanaan terlukis di sini: kepemimpinan sejati mungkin bukan hanya tentang mengatur, tetapi juga tentang keberanian untuk menjadi manusia seutuhnya, di tengah kerumunan, tanpa jubah jabatan.

Seperti riak di danau yang tenang,gerakan Gubernur segera diikuti para pejabat tinggi. Tak ketinggalan, para ibu-ibu membentuk barisan spontan, bergoyang dengan mata berbinar. Ruang pertemuan elite itu berubah fungsi: dari aula kenegaraan menjadi panggung dangdut dadakan. Inilah refleksi kebersamaan ala Nusantara: bahwa tawa dan goyangan bisa menjadi bahasa universal yang meruntuhkan sekat pangkat dan kedudukan, mengingatkan bahwa sebelum segalanya, kita adalah makhluk yang rukun dalam irama.

Ada ironi yang dalam dan renungan.Lagu “Termiskin di Dunia” yang bercerita tentang nestapa hidup, justru dinyanyikan dalam kemewahan sebuah wisma gubernuran. Namun, di situlah keindahannya. Lagu itu bukan lagi sekadar narasi kemiskinan materi, melainkan menjadi metafora: bahwa terkadang, di balik kemewahan formalitas, ada “kemiskinan” akan kehangatan dan keautentikan. Momen itu menjadi pengingat, bahwa kekayaan sejati terletak pada kemampuan untuk merayakan kebersamaan yang cair dan jujur.

Decak kagum para tamu undangan bukan hanya pada kemampuan vokal Tahlis Gallang,tetapi pada keberaniannya meruntuhkan personanya sendiri. Mereka menyaksikan sebuah transformasi: dari sekprov menjadi penghibur, dari pejabat menjadi manusia yang menghidupkan ruang. Ini adalah pelajaran tentang esensi manusia yang tak pernah bisa sepenuhnya dikurung dalam seragam atau job description. Ada sisi lain yang selalu menunggu untuk diekspresikan, dan ketika ia keluar, ia punya kekuatan untuk mengubah segalanya.

Acara yang direncanakan selesai pada waktu tertentu,ternyata merambat hingga larut malam. Waktu seperti kehilangan makna numeriknya; yang ada hanyalah durasi kebahagiaan. Refleksi waktu dalam ruang kebahagiaan adalah ia elastis. Detik-detik yang diisi tawa dan joget terasa lebih pendek, namun meninggalkan jejak memori yang jauh lebih panjang daripada jam-jam protokoler yang kaku.

Usai berjoget,dengan napas yang masih tersengal ringan, Gubernur YSK berseru, “Aku lebih suka yang dangdut begini.” Ucapan itu bukan sekadar selera musikal. Itu adalah pernyataan filosofis. “Yang begini” mewakili kehangatan, keterusterangan, dan kehidupan yang tidak terkemasi rapi. Itu adalah pilihan untuk mengedepankan human interest di atas segala kemegahan formal. Tepuk tangan yang menyambutnya adalah persetujuan kolektif, pengakuan bahwa ada kebutuhan akan “yang begini” dalam keseharian yang sering kali terlalu kaku.

Malam itu akhirnya berakhir.Lampu kristal kembali menyala tanpa diiringi denting musik dangdut. Namun, sesuatu telah berubah. Wisma Beringin bukan lagi sekadar gedung pemerintahan; ia kini menyimpan kenangan tentang sebuah malam ketika dinding-dindingnya menyaksikan joget dan tawa. Acara pisah sambut itu mungkin akan tercatat dalam arsip, tetapi yang akan lebih melekat adalah kisah tentang bagaimana sebuah lagu dangdut, dari seorang sekprov, berhasil mengingatkan semua orang yang hadir tentang warna-warna manusiawi yang paling dasar dan paling penting: kebersamaan, spontanitas, dan sukacita yang sederhana. Pada akhirnya, kepemimpinan bukanlah tentang mengendalikan irama, tetapi tentang berani ikut menari ketika hati memanggil.(**)