Sarhan Antili: Garda Depan Pemprov Sulut Atasi Gejolak Harga Beras



Manado, AktualNusantara– Menyikapi keresahan masyarakat atas melonjaknya harga beras, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) langsung mengambil langkah konkret. Sosok Staf Khusus Gubernur Sulut Bidang Pangan, Sarhan Antili SE, menjadi ujung tombak dalam merespons dan menjelaskan situasi serta langkah penanganan yang diambil.

Sarhan Antili menegaskan bahwa kenaikan harga beras yang terjadi di Sulut bukanlah masalah yang terisolasi. Dalam penjelasannya, Antili menyatakan bahwa fenomena ini merupakan dampak dari dinamika pasar yang lebih luas, baik secara nasional maupun global, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks. Ia menekankan bahwa lonjakan serupa terjadi di banyak daerah lain di Indonesia.

"Kami sepenuhnya memahami dampak signifikan kenaikan harga beras ini terhadap kehidupan masyarakat Sulut," tegas Sarhan Antili dalam keterangan resminya, Rabu (10/07/2025). Ia kemudian memaparkan akar masalah yang bersifat sistemik. Menurut Antili, gangguan cuaca ekstrem yang mempengaruhi produksi, kendala distribusi barang, serta peningkatan biaya produksi yang terjadi secara nasional menjadi penyebab utama tekanan harga saat ini.

Merespons kondisi ini, Pemprov Sulut di bawah pimpinan Gubernur Yulius Selvanus SE dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay, melalui koordinasi Sarhan Antili, segera menggerakkan sejumlah inisiatif. Tujuannya jelas: meringankan beban masyarakat dan mencari solusi jangka pendek maupun panjang terhadap persoalan pangan ini. Antili memastikan pemerintah tidak tinggal diam.

Salah satu aksi nyata yang langsung diimplementasikan adalah pelaksanaan operasi pasar murah secara intensif dan berkala. Operasi ini digelar di berbagai kabupaten dan kota di seluruh Sulawesi Utara. Tujuannya untuk menyediakan beras dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat, sekaligus membantu menstabilkan harga di tingkat pasar tradisional.

Sinergi strategis juga diperkuat dengan Perum Bulog Sulut. Sarhan Antili menjelaskan bahwa kerja sama ini difokuskan untuk menjamin ketersediaan stok beras yang memadai di pasaran. Dengan stok yang mencukupi, diharapkan dapat mencegah terjadinya kelangkaan yang memicu spekulasi dan kenaikan harga lebih lanjut, sehingga harga di tingkat konsumen bisa lebih stabil.

Tak hanya berfokus pada distribusi, Pemprov Sulut juga memberikan perhatian serius pada sektor hulu, yaitu para petani lokal. Sarhan Antili menyampaikan bahwa pemerintah memberikan dukungan penuh berupa bantuan pupuk, bibit unggul, serta alat-alat pertanian. Dukungan ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan ketahanan petani menghadapi tantangan.

Lebih jauh, Antili menegaskan komitmen Pemprov Sulut dalam memperkuat program strategis "Tanam Apa yang Dimakan, Makan Apa yang Ditanam". Program ini merupakan langkah jangka panjang untuk membangun kemandirian dan ketahanan pangan berbasis potensi lokal Sulawesi Utara, mengurangi ketergantungan dari pasokan luar.

Dalam menjalankan semua kebijakan dan program ini, Sarhan Antili menekankan prinsip kecepatan, transparansi, dan akuntabilitas. Ia menyatakan bahwa setiap langkah diambil dengan pertimbangan matang dan dilaporkan secara terbuka kepada publik. Transparansi ini dianggap krusial untuk membangun kepercayaan masyarakat.

Sarhan Antili juga secara khusus membuka diri terhadap masukan dan kritik konstruktif dari berbagai pihak. Ia menyadari bahwa penanganan isu pangan yang kompleks memerlukan pengawasan dan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat untuk memastikan kebijakan berjalan efektif dan tepat sasaran.

Pemprov Sulut, melalui pernyataan Sarhan Antili, secara resmi mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan, pelaku usaha, dan warga biasa, untuk bergotong royong. Kerja sama dan dukungan dari semua pihak dinilai esensial dalam mendukung langkah-langkah strategis yang telah dan akan terus dijalankan pemerintah.

"Gotong royong ini kunci utamanya. Bersama-sama, kita wujudkan ketahanan pangan dan ekonomi rakyat Sulut yang lebih kuat, mandiri, dan berdaulat," pungkas Sarhan Antili, menutup penjelasannya tentang upaya komprehensif Pemprov Sulut menghadapi tantangan harga beras saat ini. (**)