Doa Syafaat Menggema di Depan Polda: Dukungan Moril Umat GMIM untuk Hein Arina



MANADO, AktualNusantara – Puluhan umat Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) menggelar aksi doa di halaman Mapolda Sulawesi Utara pada Kamis siang (17/4/2025), sebagai bentuk dukungan moral kepada Ketua Sinode GMIM, Pdt Hein Arina.

Aksi doa ini diikuti oleh para pendeta, pelayan khusus (pelsus), Panji Yosua, hingga jemaat umum. Secara bergantian, mereka menyampaikan doa syafaat yang ditujukan bagi Pdt Hein Arina dan keluarganya, GMIM, pihak kepolisian, serta pemerintah.

Di tengah suasana khusyuk, beberapa jemaat tampak tak kuasa menahan air mata. Tangis mereka pecah seiring lantunan doa dan pujian yang terus mengalun.

“Apa sebenarnya yang salah dengan dana hibah ini?” seru seorang pendeta dalam doanya, dengan suara penuh emosi.

Doa-doa tersebut disertai dengan pujian, termasuk lagu Ringan Semua di Kalvari, yang dikenal sering dibawakan oleh Pdt Hein Arina dalam berbagai kesempatan. Lagu Mars GMIM juga turut dinyanyikan sebagai bentuk semangat dan identitas kebersamaan. Di akhir rangkaian, jemaat berlutut dan melanjutkan doa dalam keheningan.

Aksi ini berlangsung dalam suasana damai. Setelah selesai, para peserta mendekati aparat yang berjaga untuk bersalaman sebagai ungkapan hormat dan terima kasih.

Pdt Janny Rende, Penjabat Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM, menyampaikan bahwa kehadiran mereka adalah murni bentuk dukungan moril kepada Pdt Hein Arina yang tengah menjalani pemeriksaan atas dugaan kasus dana hibah GMIM.

"Ini adalah solidaritas kami dari BPMS GMIM dan para hamba Tuhan. Kami ingin menunjukkan bahwa Pdt Arina tidak sendiri," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Pdt Arina baru saja kembali dari perjalanan panjang dari Amerika Serikat dan langsung menjalani pemeriksaan tanpa banyak waktu untuk beristirahat.

“Kami ingin menguatkan beliau agar tetap tabah dan semangat melewati proses ini,” tutur Rende.

Ia juga menegaskan bahwa aksi ini bukan bentuk demonstrasi, melainkan murni dukungan moril. "Kami tidak sedang berdemo. Ini sepenuhnya aksi spontan dan damai untuk menyatakan empati dan dukungan," tandasnya.

Sekitar pukul 10.40 WITA, Pdt Hein Arina tiba di Mapolda Sulut dan langsung memasuki gedung untuk memenuhi panggilan penyidik. Di luar pagar, ratusan pendeta dan jemaat tetap bertahan, mengenakan pakaian putih, sembari menaikkan pujian dan doa.

Di bawah terik matahari, mereka menyanyikan lagu-lagu rohani dengan penuh haru. Tangis pun kembali terdengar di tengah barisan jemaat yang berdoa agar pemimpin rohani mereka diberikan kekuatan dan perlindungan selama proses hukum berlangsung.

“Saya percaya, GMIM berdiri bukan karena manusia, tetapi karena Tuhan,” ungkap seorang pendeta dalam doanya yang menyentuh hati para peserta aksi.**