Gubernur Yulius Selvanus Komaling Ikuti Tradisi Iwadh di Kampung Arab Manado, Perkuat Harmoni Budaya
Sulut, AktualNusantara - Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling, menunjukkan komitmennya dalam menjaga keragaman budaya dengan mengikuti tradisi Iwadh di Kampung Arab Manado, tepat pada perayaan Hari Raya Idul Fitri. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mempererat hubungan antaretnis sekaligus melestarikan kearifan lokal.
Dalam kegiatan tersebut, Gubernur Komaling berkeliling ke sejumlah rumah warga Kampung Arab yang terletak di Kelurahan Calaca, Kecamatan Wenang. Tradisi Iwadh, yang dilaksanakan setiap Idul Fitri, merupakan momen saling mengunjungi dan bersilaturahmi antarumat Muslim, termasuk dengan tokoh masyarakat dan pemeluk agama lain. Gubernur turut serta menyantani hidangan khas yang disajikan warga, seperti kue nastar dan lapis legit, sambil berbincang hangat tentang kehidupan sehari-hari.
“Tradisi Iwadh adalah cerminan indahnya kebersamaan di Sulawesi Utara. Saya ingin tradisi ini tetap hidup, karena bukan hanya bagian dari identitas budaya, tetapi juga simbol persatuan,” ujar Komaling dalam sambutannya. Ia menambahkan, keharmonisan antarumat beragama di Manado patut dijaga sebagai contoh bagi daerah lain.
Kampung Arab Manado, yang telah ada sejak abad ke-19, dikenal sebagai pusat komunitas keturunan Arab-Indonesia yang berbaur dengan masyarakat Minahasa dan etnis lainnya. Mayoritas warga di sana bekerja sebagai pedagang dan pengusaha, dengan masjid tua Al-Mujahidin menjadi ikon kawasan tersebut. Tradisi Iwadh sendiri telah berlangsung turun-temurun, di mana warga membuka rumah secara luas untuk tamu dari berbagai latar belakang.
“Kami sangat menghargai kehadiran Pak Gubernur. Ini membuktikan pemerintah peduli pada budaya kami,” kata Ali Basyahab, tokoh masyarakat setempat. Menurutnya, kunjungan pemimpin daerah seperti ini memperkuat rasa inklusivitas di tengah masyarakat multikultural.
Sebagai provinsi dengan populasi multietnis, Pemerintah Sulut terus mendorong program pelestarian tradisi lokal. Gubernur Komaling berjanji akan memperluas dukungan untuk kegiatan serupa, termasuk melalui anggaran kebudayaan dan edukasi generasi muda.
“Keragaman adalah kekuatan kita. Mari jadikan perbedaan sebagai alat pemersatu bangsa,” pungkasnya. Kunjungan ini ditutup dengan doa bersama untuk kemajuan Sulawesi Utara, diiringi harapan agar toleransi tetap menjadi nafas kehidupan masyarakat. (JS)


Komentar via Facebook