Kunjungan Silaturahmi Ev. Pdt. Arthur Malonda ke Mayjen TNI Suhadi Perkuat Toleransi di Sulawesi Utara.
Sulut, AktualNusantara - Ev. Pdt. Arthur Malonda, Pendeta senior melakukan kunjungan silaturahmi Lebaran ke kediaman Panglima Kodam XIII/Merdeka, Mayjen TNI Suhadi, Senin (31/3). Kunjungan ini bertujuan mempererat hubungan antarumat beragama sekaligus menegaskan komitmen kebersamaan di tengah keberagaman. Turut hadir sejumlah pendeta terkemuka, seperti Pdt. Alexander Rotti, Pdt. Jefrry Nelwan, Pdt. Jhon Tuilan, Pdt. Katiandagho, dan Pdt. Stenly Suparman.
Acara yang berlangsung hangat dan penuh keakraban ini menonjolkan nuansa persaudaraan lintas agama.Mayjen Suhadi, yang juga dikenal sebagai seorang Haji dan pembina rohani (ustaz) di lingkungan TNI, menyambut tamu dengan ramah. Dialog antara tokoh gereja dan petinggi militer ini menjadi simbol konkret harmoni yang telah lama dijaga di Sulawesi Utara. “Ini momen penting untuk saling mendengar dan belajar,” ujar Pdt. Arthur Malonda.
Dalam kesempatan tersebut, terjadi obrolan terbuka (curhat) yang mendalam antara pihak gereja dan TNI.Pdt. Malonda bahkan melakukan wawancara informal dengan Mayjen Suhadi, membahas peran TNI dalam menjaga kerukunan serta nilai-nilai spiritual yang dipegang sang panglima. “Sebagai muslim dan haji, saya meyakini bahwa tugas utama kami adalah melindungi seluruh rakyat, tanpa membeda-bedakan agama,” tegas Suhadi.
Mayjen Suhadi, yang karir militernya dimulai sejak lulus Akmil tahun 1988, dikenal sebagai sosok yang mengintegrasikan nilai keagamaan dalam kepemimpinannya.Selain aktif sebagai pembina rohani Islam di TNI, ia kerap terlibat dalam dialog antariman. Latar belakangnya di satuan teritorial, termasuk pernah menjabat sebagai Danrem, memperkaya perspektifnya tentang pentingnya kedekatan dengan masyarakat.
Karir Suhadi yang cemerlang mencerminkan kompetensi dan dedikasi. Setelah menyelesaikan pendidikan di Seskoad dan Sesko TNI, ia memegang sejumlah jabatan strategis, termasuk Komandan Kodim dan Komandan Korem. Pengalamannya di bidang teritorial inilah yang membentuk pemahamannya tentang kunci perdamaian: komunikasi dan kolaborasi antarlembaga.
Kunjungan ini dinilai sebagai contoh nyata toleransi “hidup berdampingan” yang menjadi ciri khas Sulawesi Utara.Provinsi dengan populasi Kristen mayoritas ini dikenal mampu menjaga hubungan harmonis dengan minoritas muslim, termasuk lewat kolaborasi aktif antara tokoh agama dan institusi seperti TNI. “Ini bukan sekadar simbol, tapi praktik sehari-hari.
Keberhasilan Sulawesi Utara dalam merawat toleransi diharapkan menjadi inspirasi nasional. Seperti disampaikan Pdt. Malonda, “Kerukunan bukanlah tujuan akhir, tetapi proses yang harus terus dijaga.” Kolaborasi antara tokoh agama, masyarakat, dan TNI ini menjadi bukti bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan kekuatan untuk Indonesia yang lebih damai.(JS)


Komentar via Facebook